newbienomics

A newbie's adventure on business, finance, and economics

Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak?

with 5 comments

Sebagai newbie parents, saya dan istri sedang semangat banget menghitung-hitung dan mempersiapkan yang terbaik untuk anak kami. Salah satu yang penting ialah biaya pendidikan anak. Kami menghitung, berapa yang harus disimpan untuk memenuhi biaya pendidkan anak kami nanti? Terus, akan disimpan dalam bentuk apa? Apakah asuransi pendidikan, asuransi pendidikan+unit link, tabungan pendidikan, atau bentuk lain?

Newbienomist membuat spreadsheet sederhana berapa yang diperlukan. Kami juga pernah diprospek seorang agen unit link, yang menunjukkan perhitungan yang mirip-mirip. Ini spreadsheet dan penjelasannya.

Biaya Pendidikan Saat Ini

Saya ambil dari keluargacerdas.com (tulisan Desy Widjaja, 14 Oktober 2008) untuk Pre School sampai SMA (nilai yang saya ambil ialah nilai diantara sekolah-sekolah yang di survei, secara arbitrer –bahasa keren dari semau gw, hehehe, tetapi saya pikir cukup masuk akal- ), dan biaya masuk UI Fakultas Ekonomi International Class tahun 2008 (dari kompas.com). Di asumsikan juga biaya SPP anak anda nanti tidak bertambah sepanjang masa pendidikannya.

Biaya Pendidikan Saat Anak Anda Masuk Sekolah

Menurut beberapa sumber, inflasi biaya pendidikan cukup tinggi, antara 10-20 % per tahunnya. Sekarang ini mari sedikit optimis, dan asumsikan inflasi biaya pendidikan ialah 12% per tahun. Maka inilah kira-kira biaya pendidikan pada waktunya tiba (dihitung dengan asumsi anak anda berusia 1 tahun).

Berapa yang harus diinvestasikan per bulan?

Nah, ini yang sering dipresentasikan oleh agen unit link. Dengan unit link-saham, maka anda bisa dapat 15% per tahun! (”Malah lebih! Bisa 20% pak! Tahun lalu ke sekarang IHSG naik 90% lebih!”). Nah, maka asumsikan saya investment return yang kira-kira anda terima 15% per tahun. Dengan begitu, setiap tiba waktunya anak anda masuk sekolah, anda bisa mencairkan investasi anda dan dapat menanggung uang pangkal dan SPP-nya selama masa sekolah. Inilah seharusnya jumlah yang harus anda simpan dengan asumsi-asumsi yang disebut sebelumnya:

Berarti, sejak anak anda berumur 1 tahun, tiap bulan anda harus menginvestasikan 5,56 juta di investasi yang mampu memberikan return investasi 15% per tahun selama 17 tahun. Besar investasi pertahun berarti 66,7 juta.

Kalau anda diprospek agen unit link, kira-kira hal seperti di atas lah yang akan dia bilang. Bahkan biasanya ditambah asumsi untuk return investasinya, antara 17-20%. Anda yang sedikit tergoda, sebelum bertindak lebih jauh, bacalah seri artikel tentang asuransi di www.priyadi.net. Di sini saya tak akan mengulang, tapi singkatnya, lebih baik anda mengambil asuransi dan reksadana secara terpisah. Tambahan lagi, fee untuk dana kelolaan di unit link yang pernah dipresentasikan kepada saya lebih besar dari fee rata-rata reksadana.

Beberapa Komentar

Yang pertama yang ingin saya tanggapi dari paparan sebelumnya ialah, kenapa perhitungan SPP dimasukkan? Terkait dengan itu, kenapa perhitungan kebutuhan sekolah lain (buku-buku, transportasi ke sekolah, iuran ini-itu, akomodasi di luar kota saat kuliah) tidak dimasukkan? Mungkin benar, untuk menyederhanakan masalah. Tetapi kalau mau memperhitungkan biaya pendidikan secara keseluruhan, seharusnya seuruh biaya terkait juga dimasukkan. Saya menduga, kalau perhitungan biaya terkait dimasukkan, angka investasi per bulannya akan jadi makin besar dan akan membuat jeri yang diprospek, hehehe…Angka yang sekarang aja udah bikin ngeri orang kebanyakan yang jadi prospek para agen  (kelas menengah perkotaan), tetapi angka itu masih dipersepsikan bisa tercapai, terutama kalau anda memainkan investment return-nya (”dana anda ditempatkan di saham pak, bisa 20% per tahun! Malah lebih!”). Dengan perhitungan yang tadi, bila imbal investasi di ubah jadi 17%, anda cukup menabung sekitar 4,9 juta per bulan. Bila 20%, cukup 4,13 juta per bulan. Masih besar, tapi bisa. Di tambah lagi dengan kalimat sakti ”nanti kan penghasilan bapak meningkat, jadi tinggal ditambah saja pak porsi investasinya”.

Yang kedua, kalau di lihat dari karakteristik biaya pendidikan, sebenarnya biaya yang menjadi barrier utama ialah uang pangkal, yang jumlahnya lumayan. Untuk SPP dan biaya lain terkait pendidikan, kebanyakan orang tua akan mengalokasikan dari penghasilannya nanti. Menurut saya, pada saat anak akan masuk sekolah, orang tua akan menghitung, dengan SPP dan biaya-biaya lain sejumlah X, bisa gak ya kita membiayai? Tetapi untuk uang pangkal yang relatif besar, tidak semua orang tua mempunyai dana yang tersedia sebanyak itu untuk saat itu. Jadi, kalau mau mempersiapkan, persiapkanlah untuk uang pangkalnya, dan ukur diri untuk biaya SPP dan lainnya. Tanpa perhitungan SPP, inilah yang perlu anda siapkan:

Biaya pendidikan saat anak anda masuk sekolah (asumsi: anak berumur 1 tahun):

Uang pangkal nantinya (asumsi anak anda sekarang berumur 1 tahun):

Investasi per bulan yang diperlukan:

Tentu saja jumlahnya jauh dari yang pertama tadi.

Nah, bila semua berjalan lancar, uang pangkal untuk masuk sekolah akan tersedia pada waktunya. Tetapi bagaimana bila pada saat itu, dengan hitungan kita, SPP dan biaya lainnya terlalu memberatkan penghasilan bulanan kita? Tidak usah masuk sekolah itu! Downgrade keinginan anda. Toh, gak ada jaminan dengan masuk sekolah itu anak anda jadi lebih cerdas atau sukses.

Yang ketiga. Baiklah, anda ngotot anda akan mempersiapkan semua: uang pangkal, SPP, dan biaya pendidikan lain. Bagus. Anda juga super optimis, dengan berinvestasi dengan return 20-30% per tahun, nantinya jumlah yang anda idamkan itu akan tercapai. Bagus. Saya cuma mau bilang satu hal: meraih rata-rata 20-30% return per tahun selama 18 tahun itu bukan pekerjaan gampang. Jangan lihat horizon waktu yang sempit, seperti 2 atau 5 tahun (apalagi membandingkan tahun kemarin dan sekarang). 18 tahun itu lama, dan fund manager yang secara konsisten mampu mengalahkan market selama itu tidak banyak. Ini saya catat beberapa fund manager terbaik (mutual fund dan hedge fund):

Benjamin Graham (21 % per tahun selama 20 tahun), Warren Buffet (the greatest of all, 23.8% per tahun untuk investment partnership pertamanya selama 13 tahun, dan di Berkshire Hatahway, 20.3% per tahun dari tahun 1965-2009), Sir John Templeton (17,5%, 30 tahun), Peter Lynch (29%, 13 tahun), John Neff (13,7%, 31 tahun), David Dreman (17 %, 15 tahun). Yang lain? Rata-rata saja. Anda bisa lihat, sedikit sekali yang bisa mencapai return lebih dari 20% per tahun selama lebih dari 17 tahun. John Bogle, mengukur performa Fund Manager, dimana dia bilang 90%-nya uderperformed dibanding market. Burton Malkiel (penulis A Random Walk Down Wall Street) melakukan studi semua reksadana di AS dan menemukan bahwa performanya underperformed dari market benchmark-nya sejak 1971-1990. Sekarang saya tanya, apakah fund manager unit link anda Warren Buffett, atau John Templeton atau Peter Lynch?

Saya tidak bilang return 20-30% per tahun selama 18 tahun itu mustahil. Saya cuma bilang bahwa itu tidak mudah, dan jarang. Jadi, untuk asumsi, jangan menggunakan yang jarang itu sebagai acuan. Kalau mau konservatif, gunakan investment return 10%…atau return indeks per tahun selama 18 tahun…Hati-hati juga dengan black swan: bisa saja return bagus anda selama 15 tahun tersapu bersih di tahun ke 16…

Dengan asumsi yang benar-benar konservatif, kebanyakan kita mungkin berkecil hati melihat besarnya jumlah tabungan yang harus disiapkan bahkan sejak anak kita 1 tahun. Tetapi jangan khawatir. Harus diingat bahwa angka-angka asumsi sekolah di atas adalah untuk sekolah-sekolah yang memang mahal. Untuk Preschool, sampel bu Desy Widjaja adalah  KidSport,  Khayangan Montessori School (Depok), Melati Al Izhar (Cinere), Apple Tree (Muara Karang), Phoenix Kids (Menteng) dan Kepompong Playgroup (Jaksel). Untuk TK, sampelnya ialah Santa Ursula (BSD), Citra Alam(Ciganjur), Ar-Rachman (Setiabudi), Jubille (Sunter), Gandhi Memorial International School (Pangandaran), High/Scope Indonesia, TK Islam Yarsi (Cempaka Putih), TK Lazuardi (Cinere), TK Marsudirini (Bogor). Untuk SD, sampelnya SD Tarakanita (Rawamangun), SD BPK Penabur (Kelapa Gading), SD Bellarminus, SD Global Jaya (Bintaro), SD Al-Azhar (Kelapa Gading), SD High/Scope, SD Madania, SD Cikal (Jakarta Selatan). Untuk SMP dan SMA, sampelnya SMP Don Bosco (Pulo Mas), SMP Lab School (Rawamangun), SMA Lab School (Rawamangun), SMA IPEKA, SMA Al Azhar (Pondok Labu). Pertanyaannya sekarang, benarkah sekolah yang mahal itu menjamin output yang baik? Menurut saya sih tidak.

Pendidikan yang pertama dan terutama, menurut saya, adalah di keluarga. Anak pertama kali belajar dari significant others: Ibu, Ayah, anggota keluarga lain yang dekat, dan orang lain yang juga dekat. Sudah jadi pemahaman umum juga bahwa intelegensia dan kemampuan akademis saja tak menjamin sukses. Yang terpenting adalah karakter. Dan pendidikan karakter ditanamkan di keluarga. Benar, sekolah bisa membantu, tetapi tetap keluarga yang utama.

Kemudian, menurut saya yang menentukan kualitas sekolah itu bukan fasilitas, bukan sistem, bukan persepsi elitnya, bukan nama besarnya, tetapi gurunya. Dan sekolah-sekolah mahal tidak selalu mempekerjakan guru-guru terbaik. Yang dapat disimpulkan dari sekolah-sekolah termahal adalah mereka menggaji guru yang lebih mahal, belum tentu guru yang lebih baik. Guru yang baik juga bisa ditemukan di sekolah-sekolah biasa, bahkan di sekolah-sekolah ’kampung”. Ingat Bu Maemunah di Laskar Pelangi?

Jadi, mempersiapkan yang terbaik tentu saja perlu. Tetapi ingat: jangan mau ditipu =p,  diberi impian kosong (sambil orang lain yang diuntungkan), soale nanti kecewa =D. Dan semoga kita semua mampu membangun keluarga sakinah, yang jadi wahana pendidikan terbaik untuk anak-anak kita nanti. Aamiin.

About these ads

Written by lluqman

March 8, 2010 at 5:59 am

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. plok plok plok….

    mantap sekali bapak satu ini….

    jika pendidikan yang pertama dan terutama adalah keluarga, bagaimana dengan home school ? ada hitung hitungannya juga pak?

    aditbram

    March 19, 2010 at 11:30 am

    • kalo home scholing, gari guru yg bagus, carilah calon istri yg profesinya guru. kelak udah punya anak, istri yg jadi guru. mantap gan

      yaniortega.wordpress.com

      August 20, 2010 at 6:08 am

  2. mantap pak,,,bisa memperhitungkan biaya sekolah kyk gt

    Faizal | Akselera

    August 30, 2010 at 3:50 am

  3. masih ada sekolah negeri bermutu yg gratis kok krn ada dana BOS. Analisa di atas bikin ortu semakin senewen ama biaya pendidikan

    vinnie

    November 16, 2010 at 8:23 am

  4. Nice posting! Mudah dimengerti and very rational :)

    elivie

    January 11, 2012 at 1:05 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: